Tampilkan postingan dengan label Peluang Usaha. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Peluang Usaha. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Agustus 2012

Pengusaha Sukses yang berawal dari Tukang Sapu


Peluang Usaha apapun kalau dimanfaatkan semaksimal mungkin seringkali menjadikan kesuksesan, seperti yang dialami Tri Sumono kini pengusaha sukses dengan omzet ratusan juta. Ia mengawali langkahnya di dunia usaha dengan menjadi pedagang aksesori kaki lima. Ulet dan tekun membuat usahanya terus berkembang.

Pepatah lama yang menyatakan "hidup seperti roda berputar" tampaknya berlaku bagi Tri Sumono. Berawal dari menjadi kuli bangunan hingga tukang sapu, kini Tri sukses menjadi pengusaha beromzet ratusan juta rupiah per bulan.

Lewat perusahaan CV 3 Jaya, Tri Sumono mengelola banyak cabang peluang usaha, antara lain, produksi kopi jahe sachet merek Hootri, toko sembako, peternakan burung, serta pertanian padi dan jahe. Bisnis lainnya, penyediaan jasa pengadaan alat tulis kantor (ATK) ke berbagai perusahaan, serta menjadi franchise produk Ice Cream Campina. "Saya juga aktif jual beli properti," katanya.

Dari berbagai lini usahanya itu, ia bisa meraup omzet hingga Rp 500 juta per bulan. Pria kelahiran Gunung Kidul, 7 Mei 1973, ini mengaku tak pernah berpikir hidupnya bakal enak seperti sekarang.

Terlebih ketika ia mengenang masa-masa awal kedatangannya ke Jakarta. Mulai merantau ke Jakarta pada 1993, pria yang hanya lulusan sekolah menengah atas (SMA) ini sama sekali tidak memiliki keahlian.

Ia nekat mengadu nasib ke Ibu Kota dengan hanya membawa tas berisi kaus dan ijazah SMA. Untuk bertahan hidup di Jakarta, ia pun tidak memilih-milih pekerjaan.

Bahkan, pertama bekerja di Jakarta, Tri menjadi buruh bangunan di Ciledug, Jakarta Selatan. Namun, pekerjaan kasar itu tak lama dijalaninya. Tak lama menjadi kuli bangunan, Tri mendapat tawaran menjadi tukang sapu di kantor Kompas Gramedia di Palmerah, Jakarta Barat.

Tanpa pikir panjang, tawaran itu langsung diambilnya. "Pekerjaan sebagai tukang sapu lebih mudah ketimbang jadi buruh bangunan," jelasnya.

Lantaran kinerjanya memuaskan, kariernya pun naik dari tukang sapu menjadi office boy. Dari situ, kariernya kembali menanjak menjadi tenaga pemasar dan juga penanggung jawab gudang.

Pada tahun 1995, ia mencoba mencari tambahan pendapatan dengan memanfaatkan  peluang usaha berjualan aksesori di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta. Saat itu, Tri sudah berkeluarga dengan dua orang anak. Selama empat tahun peluang usaha Tri Sumono berjualan produk-produk aksesori, seperti jepit rambut, kalung, dan gelang di Jakarta. Berbekal pengalaman dagang itu, tekadnya untuk terjun ke dunia bisnis semakin kuat. "Saya dagang aksesori seperti jepit rambut, kalung, dan gelang dengan modal Rp 100.000," jelasnya.

Setiap Sabtu-Minggu, Tri rutin menggelar lapak di Stadion Gelora Bung Karno. Dua tahun berjualan, modal dagangannya mulai terkumpul lumayan banyak.

Dari sanalah ia kemudian berpikir bahwa berdagang ternyata lebih menjanjikan ketimbang menjadi karyawan dengan gaji pas-pasan. Makanya, pada tahun 1997, ia memutuskan mundur dari pekerjaannya dan fokus untuk berjualan.

Berbekal uang hasil jualan selama dua tahun di Gelora Bung Karno, Tri berhasil membeli sebuah kios di Mal Graha Cijantung. "Setelah pindah ke Cijantung, bisnis aksesori ini meningkat tajam," ujarnya.

Tahun 1999, ada seseorang yang menawar kios beserta usahanya dengan harga mahal. Mendapat tawaran menarik, Tri kemudian menjual kiosnya itu. Dari hasil penjualan kios ditambah tabungan selama ia berdagang, ia kemudian membeli sebuah rumah di Pondok Ungu, Bekasi Utara. Di tempat baru inilah, perjalanan bisnis Tri dimulai.

Pengalaman berjualan aksesori sangat berbekas bagi Tri Sumono. Ia pun merintis usaha toko sembako dan kontrakan. Sejak itu, naluri bisnisnya semakin kuat. 

Saat itu, ia langsung membidik usaha toko sembako. Ia melihat, peluang bisnis ini lumayan menjanjikan karena, ke depan, daerah tempatnya bermukim itu bakal berkembang dan ramai. "Tapi tahun 1999, waktu saya buka toko sembako itu masih sepi," ujarnya.

Namun, Tri tak kehabisan akal. Supaya kawasan tempatnya tinggal kian ramai, ia kemudian membangun peluang usaha  sebanyak 10 rumah kontrakan dengan harga miring. Rumah kontrakan ini diperuntukkan bagi pedagang keliling, seperti penjual bakso, siomai, dan gorengan. 

Selain mendapat pemasukan baru dari usaha kontrakan, para pedagang itu juga menjadi pelanggan tetap toko sembakonya. "Cara itu ampuh dan banyak warga di luar Pondok Ungu mulai mengenal toko kami," ujarnya.

Seiring berjalannya waktu, naluri bisnisnya semakin kuat. Tahun 2006, Tri melihat peluang bisnis sari kelapa. Tertarik dengan peluang itu, ia memutuskan untuk mendalami proses pembuatan sari kelapa. Dari informasi yang didapatnya diketahui bahwa sari kelapa merupakan hasil fermentasi air kelapa oleh bakteri Acetobacter xylium.

Untuk keperluan produksi sari kelapa ini, ia membeli bakteri dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Bogor. "Tahap awal saya membuat 200 nampan sari kelapa," ujarnya.

Sari kelapa buatannya itu dipasarkan ke sejumlah perusahaan minuman. Beberapa perusahaan mau menampung sari kelapanya. Tetapi, itu tidak lama. Lantaran kualitas sari kelapa produksinya menurun, beberapa perusahaan tidak mau lagi membeli. Ia pun berhenti memproduksi dan memutuskan untuk belajar lagi.

Untuk meningkatkan kualitas sari kelapa, ia mencoba berguru ke seorang dosen Institut Pertanian Bogor (IPB). Mulanya, dosen itu enggan mengajarinya karena menilai Tri bakal kesulitan memahami bahasa ilmiah dalam pembuatan sari kelapa. "Tanpa sekolah, kamu sulit menjadi produsen sari kelapa," kata Tri menirukan ucapan dosen kala itu.

Namun, melihat keseriusan Tri, akhirnya sang dosen pun luluh dan mau memberikan les privat setiap hari Sabtu dan Minggu selama dua bulan. Setelah melalui serangkaian uji coba dengan hasil yang bagus, Tri pun melanjutkan kembali produksi sari kelapanya. 

Saat itu, ia langsung memproduksi 10.000 nampan atau senilai Rp 70 juta. Hasilnya lumayan memuaskan. Beberapa perusahaan bersedia menyerap produk sari kelapanya. Sejak itu, perjalanan bisnisnya terus berkembang dan maju.

Kamis, 02 Agustus 2012

Peluang Usaha KLOOM CLOGS, Sukses yang dari iseng


Peluang Usaha dan Kesuksesan bisa saja bermula dari keisengan dan coba-coba. Tengok saja pengalaman Nadia Mutia Rahma, pemilik Kloom Clogs. Mengandalkan desain yang modern, kelom produksinya langsung diminati pasar, khususnya pembeli di luar negeri.

Kalau cuma berwujud alas kaki kayu sederhana yang bertalikan karet, kelom mungkin hampir hilang dari peredaran. Sebagai gantinya, orang lebih suka memakai sandal jepit atau alas kaki modern lainnya.

Tapi, di tangan Nadia Mutia Rahma, sandal kayu yang di beberapa wilayah di Indonesia juga disebut teklek itu bisa berubah menjadi produk alas kaki harus unik, nyaman, dan disukai konsumen. Bahkan kelom bermerek Kloom Clogs hasil kreasi Nadia sukses menembus pasar luar negeri.

Nadia mengubah tampilan kelom yang lazimnya berdesain batik dan ukiran dengan teknik pengecatan air brush. Dus, kelom tradisional dimodifikasi menjadi sepatu dengan desain yang lebih modern. Ia memadukan kayu dan kulit gaya Eropa. Hasilnya adalah aneka desain kelom yang unik, trendi, modern, fashionable, dan elegan.


Jika kita tengok ke belakang, mungkin, tak ada yang mengira kelom produksi anak pertama dari dua bersaudara ini bakal ngetop. Pasalnya, kelom Nadia hanya buah dari iseng. Sejak kelas dua SMA atau sekitar 2006, Nadia tinggal di Tokyo, Jepang, mengikuti sang ayah yang bertugas di sana. Selulus SMA, ia masuk ke sekolah pendidikan bahasa Jepang. Tahun 2009, dia masuk sekolah fashion di Esmod Tokyo. Di tempat ini, ia menemukan banyak teman dari berbagai negara, terutama dari Skandinavia. “Di Indonesia, anak muda suka banget sepatu-sepatu merek asing. Tapi, teman saya dari Skandinavia justru mengoleksi kelom,” ujarnya.

Nadia baru tahu bahwa kelom memang menjadi salah satu bagian dari kebudayaan masyarakat Skandinavia. Dia lantas membeli sepasang kelom. “Akhir 2010, saya ke Indonesia untuk liburan karena jenuh di Jepang. Ternyata, liburannya keterusan,” katanya.

Alhasil, Nadia meninggalkan bangku sekolah di Esmod Tokyo. “Saya hanya sekolah selama enam bulan di sana,” katanya. Pulang ke Yogyakarta, ia mencari tukang sepatu yang bisa membuatkan kelom seperti miliknya. Dia menemukan perajin di kawasan Monumen Jogja Kembali (Monjali).

Awalnya Nadia hanya membuat tujuh pasang kelom. Dengan membanderol Rp 250.000 per pasang, barang hasil peluang usaha iseng itu langsung ludes dibeli tetangganya. Otak bisnisnya yang diwariskan dari sang ayah mulai berputar. Dia ingin memproduksi dalam jumlah besar. “Kebetulan, saya suka gambar, saya coba desain sendiri. Semua autodidak, sebab di Esmod saya tidak belajar desain sepatu,” kata gadis ayu ini.

Sulit mencari mitra
Nadia memutuskan ikut pendidikan di Akademi Teknologi Kulit (ATK) Yogyakarta untuk mempelajari ilmu mengenai aneka produk kulit. Maklum, kulit menjadi bahan baku peluang usaha sepatunya, selain kayu pinus, mahoni, dan sampang. “Cuma bertahan tiga bulan. Baik di Esmod maupun ATK tak sampai lulus,” katanya.

Namun, dari dua sekolah itu, Nadia bisa mendapatkan jaringan bisnis. Dari teman-temannya di Esmod, ia mendapat jaringan pembeli di luar negeri dan dari teman di ATK, ia mendapat jaringan perajin dan pemasok bahan baku.

Dengan modal awal tabungan Rp 30 juta, Peluang usaha Nadia mulai memproduksi dalam jumlah besar. “Semua saya jual secara online via Facebook dan blog,” katanya. Saat itu, ia baru memiliki lima perajin. Sang ibu membantu peluang usahanya di bagian pemasaran sedangkan Nadia lebih fokus di bagian produksi.

Kemudian, Nadia mencoba membuka gerai di Kemang, Jakarta Selatan. Dari situ, ada yang mengajaknya berpameran di JCC, Pondok Indah Mall, Gandaria City, dan Plaza Indonesia.
Untuk memperbesar kapasitas produksi peluang usaha, Nadia menjual mobil untuk tambah modal. Tapi, ia kesulitan menambah tenaga kerja. Asal tahu saja, 70% pengerjaan produk kelomnya menggunakan mesin dan sisanya mengandalkan keterampilan manusia. “Nah, mencari tenaga untuk membuat ini sangat sulit. Benar-benar harus mendapatkan orang yang terampil,” kata Nadia yang sekarang memiliki puluhan karyawan.

Pemasaran via internet jadi kunci sukses peluang usaha Nadia. Ia juga aktif ikut pameran. Tahun lalu, ia pameran di London. Tahun ini, ia bakal ikut pameran di Hong Kong dan Paris untuk meningkatkan ekspor.

Saat ini, kelom kreasi peluang usaha Nadia diminati oleh konsumen di Finlandia, Swedia, Islandia, Norwegia, dan Denmark. “Ada juga yang dikirim ke Australia dan Amerika Serikat (AS),” kata dara kelahiran Yogyakarta, 12 Juni 1989 ini. Omzetnya dari bisnis ini bisa mencapai ratusan juta setiap bulan.

Nadia menargetkan, tahun ini, peluang usaha ia bisa memproduksi 12.000 pasang kelom atau dua kali lipat produksi tahun lalu yang sekitar 6.000 pasang. Ia membanderol kelomnya mulai Rp 175.000 hingga Rp 450.000 per pasang. “Fokus kami tidak hanya di pasar ekspor, tapi juga akan lebih giat menggarap pasar dalam negeri yang belum banyak tergarap,” ujar Nadia yang belum lama ini membuka galeri di kawasan Bumi Serpong Damai.