Jumat, 20 Juli 2012

Perjuangan Ingvar Kamprad dari jualan Korek Api sampai IKEA Furniture


Bakat bisnis pria kelahiran 30 Maret 1926 di Swedia ini memang terlihat sejak usia belia. Pada usia dimana anak-anak sedang asyik bersekolah, Kampard sudah memanfaatkan peluang usaha berdagang korek api. Ia menemukan bahwa ia bisa membeli korek api dalam jumlah besar sangat murah dari Stockholm, menjualnya secara individu dengan harga murah, dan masih menghasilkan keuntungan yang baik.

Ia menjajakannya ke teman-teman dan tetangganya dengan bersepeda. Dengan tekad yang kuat untuk menjadi orang besar, Kampard semakin gigih menjajakan peluang usaha korek apinya. Kemudian setelah labanya terkumpul, Kampard mencoba bisnis peluang usaha baru. Ia merambah bisnis lain, di antaranya yaitu peluang usaha berjualan ikan, dekorasi pohon natal, benih, pena, dan pensil.

Meski rajin berbisnis beraneka peluang usaha, ia tak lupa pendidikannya. Kampard merupakan siswa yang berprestasi. Karena prestasinya yang memuaskan, pada usia 17 tahun, sang ayah memberikan hadiah uang padanya. Alih-alih untuk bersenang-senang, ia pun memilih menggunakan uangnya untuk berbisnis.
Pemberian ayahnya dimanfaatkannya untuk membuka IKEA. Namun, kala itu ia lebih banyak menjual berbagai barang kelontongan seperti pulpen, dompet, maupun bingkai foto. Melalui IKEA, Kampard terus menuai keuntungan. Peluang usahanya semakin maju. Kemudian, keinginannya mengembangkan usaha mengantarkan pada usaha yang membesarkan IKEA hingga mendunia, yakni berbisnis mebel.

Namun, awalnya ia sebenarnya bukan hanya ingin berbisnis peluang usaha mebel. Hanya karena keterbatasan modallah yang membuat ia akhirnya memutuskan fokus pada penjualan mebel. Sebuah keputusan yang ternyata menjadi pilihan tepat sebagai penentu masa depannya.

Dalam bisnis tersebut, Kampard sempat jatuh bangun. Sebab, pesaing di bisnis peluang usaha itu sangatlah banyak. Tetapi jiwa bisnis yang telah dipupuk sejak belia membuatnya terus bertahan. Ia menggunakan strategi peluang usaha  mempertahankan harga murah dengan kualitas yang prima. Untuk melebihi pesaingnya, Kampard membuat ruang pamer mebel dimana pelanggan dapat melihat-lihat kualitas produk yang diinginkannya dan desain-desain baru yang selalu dihadirkannya.

Strateginya sukses. Kesuksesan itu membuat Kampard mampu memperluas usahanya hingga keluar Swedia. Demi kemajuan peluang usahanya, Kampard juga selalu berusaha menyediakan berbagai jenis desain dari banyak, seperti dari China, Vietnam, dan lain-lain. Berkat strategi penjualannya, IKEA menjadi sebuah perusahaan mebel raksasa yang memiliki lebih dari 200 outlet di 31 negara dan memiliki lebih dari 75 ribu pekerja.



Nama IKEA ternyata adalah kepanjangan dari sang pemilik, Ingvar Kamprad, alias IK. Sedangkan nama EA adalah kepanjangan dari Elmtaryd-Agunaryd. Kedua kepanjangan yang disebut terakhir berasal dari nama tanah pertanian tempat Kampard dilahirkan, sedangkan Agunaryd merupakan nama desa terdekat tempat ia dilahirkan.

Merek IKEA kini memang seakan telah menjadi raja mebel dunia. Saat orang menyebut nama mebel, satu nama yang selalu ada di benak adalah IKEA. Namanya bahkan dianggap setara dengan merek ritel lain, seperti McDonald untuk fastfood dan Coca Cola untuk minuman bersoda.

Karena itu, tak heran jika Ingvar Kamprad kini dinobatkan sebagai orang terkaya ketujuh di dunia dengan total kekayaan US$ 31 Milyar oleh majalah Forbes 2008. Sebuah jumlah yang sangat fantastis mengingat ia-konon-hanya berbisnis di bidang mebel tersebut.


Desain indah nan inovatif tersebut rupanya didukung oleh keberadaan yayasan sosial yang dibentuknya, Stichting INGKA Foundation. Di yayasan itu, ia mengembangkan pendidikan yang utamanya berhubungan dengan desain dan arsitek. Konon, dana yayasan tersebut melebihi kekayaannya sendiri. Bahkan, inilah yayasan yang disebut-sebut sebagai yayasan dengan dana terbesar di dunia, yakni mencapai US$ 36 miliar. Satu hal yang pasti, meski memiliki yayasan dan perusahaan mebel terbesar di dunia, Kampard dikenal sangat sederhana. Mobilnya hanyalah Volvo yang sudah berusia di atas 15 tahun dan saat bepergian pun ia hanya memilih menggunakan pesawat kelas ekonomi.



Panduan Cara Memulai Usaha


Banyak orang takut memulai usaha, karena takut gagal atau takut tidak punya modal. Hermas Puspito dari ELC Digital Company mengungkapkan, ada lima poin yang harus Anda lakukan untuk menjadi pengusaha. 

Berikut lima langkah yang harus Anda jalankan untuk mulai jadi seorang entrepreneur:

1. Jaringan
Menjadi seorang pengusaha harus mempunyai relasi yang luas dan banyak. "Kita tidak bisa membuka usaha kalau tidak bisa melakukan networking," katanya dalam Entrepreneurship Festival, di Jakarta.

Memperbanyak jaringan menjadi sangat penting bagi perluasan usaha Anda. Setiap orang dapat menjadi potensi sebagai konsumen atau bekerja sama dalam mengembangkan bisnis.

2. Persiapan mental
Banyak orang yang takut memulai usaha, ini karena dalam pikirannya sudah tertanam mental takut gagal atau bingung memulai usaha. Ada juga orang yang memiliki mental jika ingin membuka usaha harus memiliki rencana bisnis yang sempurna.

Rencana bisnis diperlukan, namun tidak harus sempurna karena dapat disempurnakan ketika bisnis telah berjalan. Seorang pengusaha harus memiliki mental fokus dan disiplin. Dua hal ini diperlukan untuk menjalankan rencana bisnis yang telah dipersiapkan.

"Kalau mentalnya harus sempurna, kapan mulai bisnisnya?" katanya.

3. Modal
Modal merupakan salah satu faktor penting dalam memulai bisnis. Banyak orang ingin memulai usaha, namun tak mempunyai modal sehingga tidak jalan. Padahal, untuk memulai usaha bisa dilakukan tanpa modal.

Modal terbagi menjadi tiga, modal sendiri, mencari modal dari investor atau bank, dan modal partnership. Modal sendiri dapat diraih dengan cara menabung, atau bisa juga memulai bisnis sendiri dengan tanpa modal seperi menjadi reseller (pengecer) sebuah barang.

"Reseller itu entrepreneur tahap satu, yang pelan-pelan naik jadi wirausaha sendiri," katanya.

Sedangkan untuk modal dari investor atau bank, dibutuhkan perencanaan bisnis yang baik. Serta modal ketiga adalah partnership, yaitu menggunakan aset yang sudah ada sebagai modal bekerja sama dengan orang lain. "Seperti, memanfaatkan rumah untuk menjual barang yang dititipkan," ujar Hermas.

4. Marketing
Seorang pengusaha harus mengetahui kelebihan produk yang membedakan dengan barang sejenis. Setelah itu, dipadukan dengan promosi yang menarik sehingga dapat menarik orang untuk membeli produk. Marketing juga dapat dipadukan dengan networking, sehingga menjadi komunikasi marketing yang terintegrasi.

"Harga dipadu dengan promosi, seperti 50 orang pembeli pertama dapat potongan, atau bisa juga menawarkan produk ke orang-orang yang kita kenal," katanya.

Kehadiran media sosial bisa jadi strategi marketing tersendiri. Ia menjelaskan, kehadiran media sosial dapat digunakan seorang entrepreneur untuk membangun komunitas. Komunitas dapat diarahkan untuk membuat acara yang terkait dengan produknya.

"Media sosial sekarang ini bisa menjadi marketing rendah biaya, bahkan tanpa modal, hanya cukup sambungan internet," katanya. Ia menyarankan bagi pengguna Twitter, jangan hanya berkicau produknya tapi juga memberi informasi yang berguna bagi follower.

5. Mulailah sekarang
Keempat langkah tadi tidak akan jalan jika tidak dimulai sekarang. Dalam menjalankan bisnis seorang pengusaha harus terus mengembangkan diri dengan membaca buku dan mendatangi seminar-seminar pengusaha untuk memotivasi diri.









Minggu, 15 Juli 2012

Sukses FEDERAL EXPRESS (FedEx) diawali dengan Tugas Kuliah dengan Nilai C


Fedex didirikan oleh Frederick W. Smith pada 18 Juni 1971. Smith sendiri dilahirkan di Marks, Mississipi pada tanggal 11 Agustus 1944. Ia adalah anak dari Frederick C. Smith, seorang pendiri jaringan resto Toddle House. W. Smith ditinggal mati oleh ayahnya pada usia 4 tahun.

Pada 1966,Seluruh mahasiswa yang mengikuti kuliah ekonomi di Yale University, Amerika Serikat, mendapat tugas untuk membuat sebuah makalah tentang bisnis. Fred Smith, salah satu mahasiswa di kampus tersebut, tertarik dengan usaha pengiriman surat.

Pada masa itu, pengiriman surat dan paket dilakukan dengan cara mengirimkannya lewat jalur penerbangan komersial biasa. Peti-peti berisi surat dan paket dikirimkan dengan menempati bagasi pesawat penumpang biasa. Fred merasa ini tidak efektif.

Fred akhirnya menuliskan idenya berupa sebuah bisnis pengiriman surat dan paket barang  yang diharapkan dapat mengirimkan barang dalam 24 jam dari satu kota ke kota lainnya. Ia membayangkan pengiriman barang akan dilakukan dari sebuah pusat yang diposisikan di kota Memphis. Pengiriman barang itu tidak akan menggunakan pesawat komersil penumpang biasa. Nantinya, usaha pengiriman paket  dan surat itu akan menggunakan pesawat milik perusahaan yag dikhususkan untuk barang.
Dengan percaya diri, Fred Smith mengumpulkan  makalah bisnisnya.

Seminggu setelah itu, beberapa mahasiswa yang mendapatkan nilai jelek untuk makalahnya dipanggil dosen bersangkutan. Fred adalah salah satunya dan ia harap-harap cemas ketika dipanggil masuk.
“Konsep ini menarik sekali. Tapi, bahkan untuk mendapatkan nilai C kamu harus cari yang lebih masuk akal lagi,” kata dosen tersebut kepada Fred. Resmilah ia mendapat nilai C untuk ide bisnis yang “tidak masuk akal” itu.


walapun begitu, Akhirnya  ia menyabet gelar sarjana ekonomi. Tapi, keputusan Smith sangat unik. Ia kemudian memilih bergabung dengan korps marinir AS. Ia menjadi seorang pilot dan pemimpin peleton selama lima tahun. Tak akan pernah terhapus dari sejarah bahwa dirinya pernah diterjunkan di medan pertempuran Vietnam dan tercatat 200 kali terbang dalam misi itu.
Setelah puas dengan kegiatan militernya, Smith kembali ke lingkungan awalnya, dunia ekonomi bisnis. 

Dengan modal cukup, ia berhasil mengakuisisi sebuah perusahaan perawatan pesawat terbang, Ark Aviation Sales pada tahun 1970. Tidak lama kemudian, ia berbisnis pesawat bekas. Baru pada 18 Juni 1971, Smith mengeksekusi mimpinya membangun Federal Express (FedEx). Untuk menjalankan perusahaan jasa pengiriman logistik ini, ia mengalokasi dana warisan sebesar US$ 4 juta ditambah dengan modal patungan US$ 91 juta sebagai investasi. Dalam semalam, perusahaan jasa transportasi kargo udara ini sudah melayani 186 paket dengan 14 pesawat kecil ke 25 kota yang terbentang dari Rochester, New York, sampai Florida.

Selama dua tahun sejak mendirikan Federal Express Corporation pada 18 Juni 1971, Fred Smith harus bekerja keras. Maklum, awalnya, perusahaan ini sempat menderita kerugian sampai US$ 29 juta. Para karyawan, termasuk pengemudi dan pilot, harus rela merogoh kocek membeli bahan bakar pesawat terbang atau mobil angkutan paket. Smith juga mengeluarkan dana besar untuk program promosi. Kesulitan makin bertambah saat harga minyak dunia melonjak seiring krisis di Timur Tengah.

Kondisi mereka semakin parah karena harus menghadapi persaingan sengit dengan UPS Inc. Demi memenangkan persaingan itu, Smith mengambil langkah-langkah yang lebih agresif. Misalnya, Federal Express membeli Flying Tigers, perusahaan penerbangan internasional yang berbasis di Los Angeles, AS. Nilai pembelian perusahaan itu mencapai sekitar US$ 880 juta. Setelah akuisisi itu, Federal Express menjelma menjadi perusahaan penerbangan kargo terbesar di dunia. Smith pun tak perlu lagi mengandalkan perusahaan penerbangan lain untuk mengirimkan paket ke luar negeri maupun antar pulau.


Untuk memperkuat armadanya, dia juga terus membeli truk-truk pengangkut paket baru. Meskipun kompetisi kian ketat dan kinerja finansial Federal Express tumbuh kerdil, Smith tak cemas. Sebab, dia merasa telah melakukan banyak perubahan, misalnya dengan menerapkan teknologi informasi yang canggih dan internet. Dengan serangkaian langkah itu, dia optimistis, Federal Express akan lebih maju. Smith juga sangat sabar menanti para investor di Amerika Serikat dan Eropa mengerti konsep bisnisnya yang mengutamakan keamanan, produktivitas, dan efisiensi. Jika para investor telah memahami konsep itu, Smith yakin, mereka pun tak akan segan-segan mengucurkan modal.


Kondisi perusahaan baru mulai membaik pada tahun 1976. Saat itu, Federal Express mulai membukukan laba. Mereka juga melakukan diversifikasi usaha ke bisnis pengi-riman dokumen, komputer, hingga organ tubuh. Dengan tambahan layanan ini, jumlah pelanggan pun semakin bertambah banyak. Apalagi, Federal Express juga menangani pengiriman barang milik pemerintah. Pada tahun 1978, Federal Express semakin mapan. Karena itu, dengan percaya diri, mereka menjual sebagian sahamnya ke publik dan melantai di New York Stock Exchange (NYSE). Dengan mengantongi dana segar dari lantai bursa, Smith bisa semakin mengembangkan perusahaan ini. Alhasil, pada tahun 1984, Federal Express berhasil membukukan pendapatan sebesar US$ 1 miliar. Ini merupakan sebuah sejarah. Sebab, saat itu, jumlah perusahaan di Amerika Serikat yang bisa mencetak pendapatan sebesar itu masih sangat sedikit.

Untuk bisa mencapai pendapatan sebesar itu, Smith menerapkan beberapa strategi khusus. Selain mengembangkan jaringan pengiriman, dia juga mengembangkan berbagai ide baru agar Federal Express bisa memberikan jasa pengiriman yang paling cepat.


FedEx pun berhasil mengirimkan paket kiriman dengan jaminan sampai ke tujuan dalam semalam. Karena jaminan ini selalu berhasil ditepati, jumlah pelanggan segera membeludak dalam waktu singkat. Rupanya komitmen pada jaminan itu menumbuhkan kepercayaan pada konsumen. Kantor FedEx semakin ramai dengan lalu lintas pengiriman barang.

Di FedEx, Smith menjadi pemimpin sekaligus presiden dan CEO yang disegani. Pada tahun 2006, Smith dinobatkan sebagai Person of the Year 2006 oleh Kamar Dagang AS-Perancis. Asal tahu saja, Smith merupakan teman satu kampus George Walter Bush dan sempat diisukan menjadi menteri pertahanan saat Bush terpilih menjadi orang nomor satu di AS.

Tahun 2007, menurut majalah Forbes, Fred Smith tercatat sebagai orang terkaya urutan 140 di Amerika dengan kekayaan total US$ 2.1 billion.





Sabtu, 14 Juli 2012

Asam Manis Kesuksesan Cuka Apel TAHESTA



Sebelum Peluang usaha cuka apelnya berkembang pesat seperti sekarang, Harry bercerita bahwa dirinya pernah melakoni berbagai bisnis, namun, semua gulung tikar. ”Mulai dari usaha tembakau, jualan kayu, pengepul SDSB, penjual roti kalengan, membuka toko garmen, hingga distributor mobil semuanya gagal,” ungkapnya.

Penyebab kegagalan semua bisnis yang pernah dilakoni Harry itu sebagian besar akibat ulah nakal orang-orang kepercayaannya. ”Saya terlalu mudah percaya, hingga saat mereka bawa barang atau pinjam uang peluang usaha saya manut saja,” beber Harry tentang kelemahan dirinya di masa lalu.

Titik nadir jalan hidup Harry terjadi pada pertengahan 1990-an. Berkali-kali gagal berbisnis aneka pleuang usaha membuat utang Harry menumpuk. Akibatnya, bank pemberi kredit berniat menyita rumah tempat tinggalnya. ”

Di tengah keterpurukannya, Harry masih mencoba bertahan dengan mencari peruntungan sebagai sopir taksi. ”Saya menjalani pekerjaan sopir ini selama hampir lima tahun, dari 1992 hingga 1996,” ujarnya. Hidupnya dari terminal satu ke terminal lain untuk mencari penumpang.

Namun, Tuhan memang tak membiarkan hambanya yang berupaya tak kenal lelah, sengsara selamanya. Pada tahun kelima Harry menjadi sopir, dia bertemu dengan salah satu petinggi perusahaan produsen air minum dalam kemasan merek Aquanar sebagai penumpangnya.

Seperti biasa, selama perjalanan, Harry pun banyak bercerita untuk menghibur penumpang. Saat lewat di depan rumahnya yang hampir disita bank, Harry juga menunjukkan ke penumpangnya. ”Penumpang saya heran, rumah saya besar kok saya jadi sopir taksi,” cerita Harry. Nah, dari situlah Harry mengungkapkan bahwa dirinya dulu mantan pengusaha. Namun, karena salah urus, usahanya bangkrut.

Cerita Harry itu rupanya membuat sang penumpang jatuh iba. Harry pun mendapat tawaran untuk menjadi distributor Aquanar. ’’Nah, dari situ semua berubah,’’ katanya. Pengalaman panjang di berbagai usaha, membuat Harry tidak kesulitan menjual Aquanar. Dalam bulan pertama saja, dia mampu menjual Aquanar sebanyak 13 truk yang masing-masing berisi 7.00 botol. ’’Rasanya semuanya mudah, ada teman yang bilang sesuai ilmu hongshui, peruntungan saya memang memang di bidang air,” ujarnya. Ucapan senda gurau itu ingin diuji oleh Harry dengan membuka bisnis sendiri dengan membuat minuman limun dalam kemasan. ”Ternyata lagi-lagi saya sukses,” ujarnya.

Pada 2000, bos pemilik Aquanar meninggal dunia. Karena kondisi perusahaan yang kurang kondusif. Harry memutuskan melepas Aquanar dan semakin serius di bisnis limun. ’’Baru pada 2001, saya coba cuka apel. Berlanjut sampai sekarang. peluang Bisnis limunnya tidak jalan karena permintaan banyak ke apel,’’ katanya.

Kenapa Harry memilih cuka apel ? Harry mengungkapkan, ketertarikannya pada peluang bisnis cuka apel berawal dari kegemarannya membaca buku. Salah satu yang dibacanya adalah tentang apel yang mengandung bahan-bahan berkhasiat. ”Apel itu seperti raja buah. Macam-macam vitamin tersedia di dalamnya. Tapi kenapa kok tidak ada yang memproduksi bahan olahannya,’’ ujar Harry mengungkapkan kegalauan hatinya saat mengawali peluang usaha bisnis cuka apel pada awal tahun 2000.

Berawal dari inspirasi itulah, Harry dibantu seorang karyawan membuat jus dari 25 kg apel pada 2001. Pada awal masa produksi itu, pihaknya mampu membuat hingga 25 karton. Setiap karton berisi 12 botol. Ternyata, produk peluang usaha cuka apel itu digemari oleh tetangga di seleliling rumah dan pembeli toko-toko yang dititipi cuka apel oleh Harry. ”Karena setiap saya buat selalu habis, maka produksi terus kami tambah,” ujarnya.

Penjualan yang terus melesat, tak membuat Harry cepat puas. Dia terus berusaha meningkatkan kualitas peluang usaha cuka apel Tahesta dengan banyak berkonsultasi dengan para pakar pangan dari Universitas Brawijaya. Khususnya tentang bagaimana fermentasi apel yang baik dan suhu ruang yang dibutuhkan. ”Saya selalu tekankan ke karyawan dan konsumen, kita bukan jual jamu, tapi minuman yang punya nutrisi bagus,” ujarnya.

Tidak disangka, omzet peluang usaha cuka apel Tahesta semakin berkembang. Dari yang semula hanya mampu membeli sebuah rumah di Sidoarjo, satu tahun berikutnya, ia mampu membeli lahan di Pandaan seluas 1000 meter persegi. ’’Tahun 2005 saya bangun 2.000 meter persegi lagi. Sampai sekarang saya gunakan untuk pabrik,’’ terangnya.

Terobosan dalam cara berproduksi yang efisien juga terus dilakukan agar harga jual terjangkau masyarakat segala lapisan. Hasilnya, meskipun kini mampu memproduksi puluhan ribu botol cuka apel tiap bulan, Harry hanya melibatkan sekitar 60 karyawan. Harga jual cuka apel Tahesta juga hanya sekitar Rp 23.000 hingga Rp 50.000 per botol, sangat bersaing dengan cuka apel sejenis, apalagi yang produk impor.

Saat ini, perusahaan Harry mampu memproduksi 3 ton cuka apel per bulan dari 4 ton apel yang dimasak. Produk cuka apel Tahesta dikirim ke seluruh wilayah Indonesia mulai Sumatra, Jakarta, Palu, Lombok, Balikpapan, sampai Papua. ’’Satu bulan ada 7.000 karton cuka apel kami jual,’’ katanya. Dari produksi itu, ia mampu membukukan omzet rata-rata Rp 1 miliar per bulan.

Kini Kesibukan terlihat di halaman sebuah rumah sederhana di Jalan Karah Agung Surabaya . Pegawai hilir mudik menaikkan kardus berisi penuh botol ukuran 300 cc ke sebuah mobil pikap. Sebagian karyawan lain sibuk mencatat pembukuan di bagian dalam rumah yang juga berfungsi sebagai kantor.


Itulah kantor pemasaran PT Tirta Sarana Sukses, produsen minuman kesehatan cuka apel merek Tahesta. Dari tempat itulah Harry Wibowo, mengkoordinir penjualan berton-ton cuka apel Tahesta ke seluruh Indonesia.


Harry sebetulnya ingin memperluas pasar peluang usaha dengan ekspor. Namun, ia mengaku masih kewalahan ketika memenuhi permintaan dari pasar lokal. ’’Untuk dalam negeri saja selalu habis, jadi belum cukup untuk ekspor,’’ katanya. Apalagi proses fermentasi membutuhkan waktu yang tidak sebentar.


Apel bagi Harry Wibowo lebih dari sekedar buah. Melalui produksi cuka hasil fermentasi”raja buah” itu, hidup Harry berbalik 180 derajat. Dari pengusaha yang hampir bangkrut dan memaksanya menjadi sopir taksi, Harry bangkit dan kini mampu meraup omzet miliaran rupiah tiap bulan.









Rabu, 11 Juli 2012

Diawali modal Kerja Bisnis kecil 50 ribu, kini DE TANJUNG beromset Besar puluhan juta/bulan


Banyak orang mengatakan bahwa merintis sebuah usaha butuh modal dana yang tidak sedikit. Dari mulai biaya sewa tempat, biaya produksi, biaya promosi, semuanya membutuhkan kucuran dana yang cukup besar. Namun hal ini ternyata tidak berlaku bagi seorang pengusaha sukses Dewi Tanjung Sari yang berhasil merintis bisnis wedding card, souvenir dan pernak-pernik pernikahan dengan modal bisnis kecil berupa uang lebaran dari sang paman sebesar Rp 50.000,00.

Terlahir di sebuah keluarga sederhana, Dewi kecil sudah terbiasa hidup serba terbatas setelah sang Ayah tercinta kembali ke pangkuan Illahi sejak Dewi masih bayi. Ibunya yang berprofesi sebagai seorang pembantu, memberikan banyak inspirasi bagi Dewi hingga akhirnya Ia berusaha melakukan sesuatu yang berarti untuk mencukupi kebutuhan hidupnya yang semakin tinggi.

Ketika duduk di bangku kuliah, lulusan D3 Universitas Brawijaya ini tidak pernah berhenti mencari akal peluang usaha untuk mendapatkan uang tambahan dengan modal usaha yang sangat kecil. Dan di saat Ia menerima uang lebaran sebesar Rp 50.000,00 dari sang paman, ibu satu orang anak ini mulai berkreasi menciptakan kerajinan daur ulang limbah dengan memunguti daun-daun kering yang berserakan di halaman kampusnya. Pada saat itu Ia membuat produk kerajinan peluang usaha seperti block note, buku telepon, pigura, dan lain sebagainya.

Dari usahanya yang terbilang kecil, Dewi berhasil mendapatkan banyak orderan dari teman-teman kampusnya maupun orang-orang disekitarnya. Perlahan tetapi pasti, peluang usaha bisnis kreatif yang dijalankan Dewi mulai menunjukan prospek pasar yang cukup besar. Hingga akhirnya di tahun 2003 Dewi mulai fokus menjalankan peluang usaha bisnisnya dengan mengangkat De Tanjung sebagai brand perusahaannya dan lebih banyak memproduksi kartu undangan pernikahan, souvenir pernikahan, sampai pernak-pernik lainnya yang dibutuhkan para konsumen untuk melengkapi moment penting tersebut.

Memasuki tahun 2004, melalui salah seorang kenalannya, Dewi mulai memasarkan produk kreasinya ke beberapa negara tetangga. Misalnya saja seperti Australia, Malaysia, Hong Kong, bahkan hingga ke Negara Jerman, dengan omset puluhan juta setiap bulannya. Banjir pesanan pun dialami De Tanjung setiap bulannya, hingga pada akhirnya di tahun 2009 silam badai krisis global meruntuhkan perusahaan ekspor yang bekerjasama dengan De Tanjung dan Dewi pun terpaksa menghentikan kegiatan ekspor yang menjadi salah satu sumber dana perusahaannya.

Bangkit dari Krisis Ekspor
Pasang surut perjalanan bisnis De Tanjung setelah menghentikan kegiatan ekspornya ke beberapa negara tetangga, memang sempat membuat Dewi patah semangat dalam mengembangkan usahanya. Namun dengan kekuatan tekad yang masih tersisa, Dewi mulai berputar arah mencari strategi bisnis baru agar bisa tetap bertahan di tengah badai krisis yang Ia hadapi. Dengan modal yang masih tersisa, Ia ingin mengembangkan peluang usaha bisnisnya dengan cepat dan pesat melalui jalur kemitraan atau franchise.


Kesuksesan yang berhasil diraih Dewi sekarang ini, tidak terlepas dari besarnya tekad yang Ia miliki dan keberaniannya untuk segera mencoba segala usaha. Semoga informasi kisah sukses pengusaha yang berhasil mengembangkan ide kreatif, peluang usaha sukses mengolah limbah jadi rupiah ini bisa memberikan manfaat bagi para pembaca dan menginspirasi seluruh masyarakat Indonesia untuk segera memulai usaha. Maju terus industri kreatif Indonesia dan salam sukses.






Sukses OUVAL RESEARCH diawali Modal Patungan 3 Pemuda


Bermula dari sebuah ide kecil yang digagas oleh tiga kawanan anak muda yakni M. Rizki Yanuar, Firman Firdaus, dan Arif Maskom yang memiliki kegemaran (hobi) bermain skateboard, ternyata Ouval Research berhasil tumbuh dengan pesat dan menjadi salah satu pelopor bisnis clothing di Kota Bandung yang keberadaannya tidak hanya dikenal masyarakat lokal, namun juga mulai diminati konsumen internasional.

Dirintis pada tahun 1997 dengan bermodalkan uang patungan sebesar Rp 200.000,00, Rizki Yanuar dan kedua rekannya ingin menciptakan peluang wirausaha produk-produk kreatif yang bisa mendukung penampilan atau style komunitas skateboard yang mereka gawangi. Dari sinilah mereka mulai melahirkan ide kreatif dan inovatif melalui beragam jenis produk peluang usaha yang mereka ciptakan, sebut saja seperti kaos serta sweater yang kehadirannya tidak hanya diminati komunitas skateboard di kota Bandung, namun juga mulai diterima konsumen umum di sekitar kota kembang dan kawasan Ibukota Negara (Jakarta).

Mengusung Ouval Research sebagai brand produk peluang usaha yang mereka tawarkan, pada dasarnya ketiga anak muda ini ingin menularkan semangat, spontanitas, kebersamaan, kepercayaan diri, serta cara menikmati hidup kepada para konsumennya. Melalui nama “Ouval” yang memiliki arti Originality for Understanding Viction and Artificial Language, serta kata “Research” yang memiliki arti selalu memberikan upaya baru untuk menciptakan sesuatu yang unik dan berbeda, Rizki, Firman, dan Arif berkomitmen untuk memenuhi kebutuhan anak muda dengan membuat desain produk yang tidak pasaran.

Hal ini dibuktikan Ouval Research dengan terus berkarya menciptakan produk-produk peluang usaha yang semakin beragam. Mulai dari kaos, sweater, hoodie, kemeja, celana, tas, topi, sepatu, sandal, belt (sabuk), dompet, gantungan kunci, papan skateboard, MP3 player, otopet, dan lain sebagainya. Bahkan untuk memanjakan para konsumen, Ouval Research juga sengaja mengganti konsep desain produk setiap enam bulan sekali untuk memberikan pelayanan spesial kepada para pelanggannya. Untuk desain kaos dan sweater, mereka membatasinya maksimal 30 desain setiap bulannya, dan setiap desain yang ditawarkan hanya diproduksi sebanyak 50 sampai 100 pcs. Sehingga tidak heran bila banyak orang yang mengatakan bahwa produk kreatif buatan Ouval Research terbilang cukup limited edition dan kualitasnya sangat memuaskan para konsumen.

Kesuksesan Ouval Research dalam merebut hati konsumen, menjadi sebuah pintu gerbang peluang usaha yang mengantarkan Rizki, Firman, dan Arif menjadi seorang milyarder di usianya yang terbilang masih cukup muda. Dengan menerapkan sistem konsinyasi (titip jual) dan melayani penjualan secara putus, sekarang ini produk Ouval Research telah didistribusikan ke berbagai kota di Indonesia dan menjangkau beberapa kawasan di negara tetangga. Sebut saja seperti Jakarta, Yogyakarta, Makassar, Semarang, Surabaya, Bali, Padang, Banjarmasin, Balikpapan, Bogor, Singapura, Malaysia, serta Jerman.

Kejelian ketiga pemuda ini dalam melihat kebutuhan pasar peluang usaha, menjadi salah satu kunci sukses peluang usaha  yang bisa menutupi kecilnya modal usaha yang mereka miliki saat itu. Semoga informasi profil pengusah sukses yang mengangkat ouval research, pelopor bisnis clothing yang mendunia ini bisa memberikan manfaat bagi para pembaca dan menginspirasi seluruh pemuda di Indonesia untuk segera memulai usaha. Maju terus UKM Indonesia dan salam sukses.




Jumat, 29 Juni 2012

Perjalanan Sukses Kuli Bangunan Mengembangkan AUTOFIT


Fitriyanto hanya lulusan SMA. Tapi, berkat tekad yang diiringi dengan usaha keras, ia sukses menjadi produsen perawatan mobil merek Autofit. Pemilik PT Vitechindo Perkasa ini mampu membikin produk yang bisa bersaing dengan merek terkenal.

Hidup ini bagi Fitriyanto benar-benar sebuah perjuangan. Ia lahir dari keluarga sederhana, kalau tidak disebut miskin. Ayahnya hanya seorang tukang kayu. Tapi, dengan tekad yang bulat dan usaha yang kuat, Fitriyanto mampu memanfaatkan peluang usaha menjadi seorang pengusaha produk perawatan mobil yang terbilang sukses. 



Ayahnya yang seorang tukang kayu tentu tak mampu menyekolahkannya tinggi-tinggi. Maka, ketika lulus SMA, pada tahun 1992, Fitriyanto langsung hijrah ke Jakarta. Anak bungsu dari lima bersaudara ini menjadi kuli bangunan. 

Enam bulan menjadi kuli bangunan, Fitriyanto pindah menjadi tukang bantu-bantu di rumah Rachmat Gobel, kini Presiden Komisaris PT Panasonic Manufacturing Indonesia. Di rumah itulah ia ketemu dengan salah satu manajer Panasonic. “Saya ditawari kerja,” ujarnya. Ia lalu menjadi pegawai di Panasonic, divisi komponen, yang memproduksi semua speaker. 

Di waktu senggang, Fitriyanto selalu meluangkan waktu untuk membaca buku kisah orang sukses. “Saya menghimpun tekad untuk menjadi orang sukses. Dari buku yang saya baca, orang sukses kebanyakan mengawali karier sebagai tenaga pemasaran (marketing),” kata suami Lihardiana ini. 

Fitriyanto lantas hengkang dari Panasonic dan pada tahun 1995, ia memanfaatkan peluang usaha sebagai tenaga pemasar di produsen minuman. “Saya mendapat upah Rp 75.000 per bulan, jauh lebih kecil ketimbang jadi kuli bangunan. Ketika jadi kuli, upah saya Rp 60.000 per minggu,” kata Fitriyanto yang akhirnya keluar setelah tiga bulan bekerja. 

Lantaran bertekad jadi tenaga pemasar, Fitriyanto kembali masuk ke perusahaan cokelat selama setahun, sebelum akhirnya pindah ke PT Prima Karya Gandareksa, perusahaan kimia. Ia tetap memanfaatkan peluang usaha sebagai tenaga pemasar, tetapi dengan gaji Rp 5 juta per bulan. “Saya banyak belajar tentang produk perawatan mobil di sini,” katanya. Lantaran kinerjanya bagus, perusahaan menugaskannya ke Bali. Tapi, ia memilih mundur lantaran tak ingin jauh dari keluarga. Selama setahun, ia beberapa kali pindah kerja di perusahaan kimia. 

Fitriyanto akhirnya masuk ke perusahaan produk perawatan mobil dari Jerman. “Di perusahaan ini, saya suka memperhatikan para peracik produk. Saya pelajari, bahan apa saja yang diramu menjadi produk perawatan,” katanya.

Setiap Sabtu dan Minggu, dia pergi ke toko kimia untuk mempelajari bahan-bahan kimia yang bisa diramu menjadi produk perawatan mobil. Dia bertahan selama lima tahun di perusahaan itu sebelum akhirnya mengundurkan diri dengan posisi gaji terakhir Rp 24 juta per bulan.

Pinjam uang ke bank

Pengalaman di perusahaan pembuatan produk perawatan mobil membuat Fitriyanto percaya diri untuk memulai peluang usaha sendiri. “Sebagai tenaga pemasar, saya sudah memegang banyak pelanggan. Saya juga sudah bisa membuat peluang usaha produk sendiri,” katanya. 

Uniknya, untuk meracik Autofit, Fitriyanto sama sekali tidak memperdalam ilmu kimia secara formal. “Semua saya pelajari secara autodidak,” kata pria kelahiran Purbalingga, 10 November 1972 ini. 

Dengan memanfaatkan bengkel sepeda motor di Cikeas, Bogor, yang didirikan saat masih bekerja, pada 2007, Fitriyanto memulai usaha produk perawatan mobil. “Saat itu, cuma ada satu montir dan tempatnya sangat sederhana,” kenangnya. Di bengkel itu, dia meracik bahan setelah memenangi tender pengadaan produk perawatan mobil dari salah satu bengkel mobil besar. 

Lantaran tak punya modal, Fitriyanto mencari pinjaman bank sebesar Rp 25 juta. “Karena tidak ada agunan, modalnya hanya kepercayaan. Bank itu menjadi pelanggan di bengkel kami,” katanya.

Dari modal Rp 25 juta, ia bisa menghasilkan omzet Rp 80 juta. Tiga tahun berjalan, usahanya semakin besar. Dengan pinjaman bank yang lebih besar, dia membuka pabrik di daerah Cipayung, Jakarta Timur, dan mendirikan PT Vitechindo Perkasa. 

Saat ini, Fitriyanto memiliki 35 karyawan dan sejak awal bulan Juni 2012, dia membuka lembaga kursus bahasa Inggris dan komputer. “Saya sendiri tak bisa mengoperasikan komputer,” katanya sambil tertawa. Ia juga membuka sekolah taman kanak-kanak sembari menjalankan usaha bengkelnya.

PT Vitechindo Perkasa, perusahaan milik Fitriyanto, berhasil memasok produknya ke bengkel resmi milik agen tunggal pemegang merek (ATPM) besar, seperti Toyota, Daihatsu, Isuzu, Honda, Nissan, Hyundai, Suzuki, Kia, dan Mazda. Bisnis ini menghasilkan omzet Rp 8 miliar per tahun.

Label merek produk buatan Fitriyanto adalah Autofit. Saat ini, ada 20 produk peluang usaha perawatan mobil merek Autofit yang sudah diproduksi, antara lain produk sampo, semir ban, pelumas, pembersih evaporator, injection purge, cairan pembersih bahan bakar, pembersih blok mesin, pembersih karburator, dan pembersih ruang bakar mesin kendaraan.