Rabu, 17 Juli 2013

Agar Jualan DAGANGAN Cepat LAKU, dan Toko USAHA BISNIS Kita LARIS Manis

Agar Jualan Dagangan Cepat Laku, dan Toko Usaha Bisnis Kita Laris Manis bisa dilakukan dengan banyak cara.
Banyak produsen berupaya menarik konsumen tapi tak berhasil membuatnya memborong banyak produk. Menarik konsumen tak berarti membuat produk Anda laku.

Lewat Hutwaite, seorang psikologi perilaku penjualan asal Inggris Neil Rackham melatihkan 30 metode dalam penjualan. Hutwaite sendiri adalah sebuah perusahaan pelatihan penjualan berbasis di Arlington, Texas, Amerika Serikat, dengan 10 kantor yang tersebar di dunia termasuk Brazil, Australia, dan Singapura. Racham telah meneliti lebih dari 35 ribu penjualan di 40 negara.

Menurut diskusi dengan pimpinan eksekutif Huthwaite John Golden, ada beberapa cara ampuh untuk membuat barang Anda laku keras di pasaran seperti dilansir dari Forbes.com,

Dengarkan konsumen
makin banyak Para penjual yang menggunakan pendekatan dengan lebih sering mendengarkan daripada bicara. Banyak penjual banyak bicara menjelaskan banyak hal yang bisa jadi tak sesuai dengan kebutuhan konsumen. Biarkan konsumen bicara soal kebutuhannya. baru kemudian kita tawarkan produk barang atau jasa yang kita punyai. Ingat, jadilah pendengar yang baik bagi konsumen

Riset kebutuhan konsumen
Lakukan pengamatan sebelum Anda mulai menjual. Jika Anda menjual peralatan kesehatan dan klien Anda adalah rumah sakit, pelajarilah kebutuhan rumah sakit sebelum pertemuan pertama Anda dengan klien.

Hadirkan produk Anda sebagai solusi bagi pembeli
Tekankan pemasaran lebih kepada kebutuhan pembeli daripada bicara banyak soal kualitas. Jadikan produk Anda sebagai solusi untuk masalah-masalah konsumen

Bisnis laris adalah jenis bisnis yang Iaku di pasaran.  
Tidak harus untung besar, tetapi yang penting adalah berulang-ulang. Kata pepatah “sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit”. Oleh karena itu, dalam mematok harga produk, survei pasar terlebih dulu sehingga harga yang Anda tawarkan dapat bersaing di pasaran

Beri Nilai Tambah
Persaingan akan selalu ada, tetapi jika sanggup memberikan nilai tambah bagi produk yang dihasilkan, seperti harga Iebih murah, kualitas lebih baik, pelayanan dengan ketepatan waktu, ramah dan memuaskan, promosi yang Iebih terarah kepada target hingga after sales yang memuaskan, bisnis Anda akan tetap Iaris dan balik modal cepat dalam hitungan bulan.

Pemasaran yang bagus
Dengan Pemasaran yang bagus, makin banyak orang yang mengetahui ada barang berkualitas yang kita miliki, sehingga memperbesar peluang untuk konsumen datang. pemasaran ini bisa ditunjang dengan iklan, marketing online, surat kabar, dan sebagainya.

Perencanaan ke depan
Dalam berbisnis, salah satu kesuksesan dapat diraih dengan melihat tren untuk beberapa waktu ke depan. Jika ingin sukses, Iakukan survei pasar secara teratur dan menganalisis perubahan yang terjadi. Dengan begitu, Anda dapat mempersiapkan diri dengan perencanaan yang Iebih matang untuk menghadapi berbagai persaingan yang ada.

Doa
Semua usaha juga ada baiknya disertai dengan doa untuk penunjang keberhasilan kita.

demikian sekilas trik Agar Jualan Dagangan Cepat Laku, dan Toko Usaha Bisnis Kita Laris Manis
semoga bermanfaat...!














dari berbagai sumber

Senin, 15 Juli 2013

Loyalitas Pelayanan untuk Memenuhi KEPUASAN PELANGGAN DAN KONSUMEN

Memberikan kepuasan pada pelanggan , pembeli dan konsumen menjadi sebuah keharusan bagi para pebisnis. Hal itu juga selalu menjadi prioritas utama agar bisnis yang dijalankan dapat bertahan lama. Namun, untuk memenuhi kepuasan pelanggan tentu tidak semudah membalikan telapak tangan. Oleh karena itu, pebisnis terus ditantang untuk memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan setiap harinya. Ada beberapa cara memberi kepuasan terhadap pelanggan :

Dengarkan keluhan pelanggan. Dalam dunia bisnis keluhan adalah suatu hal yang biasa terjadi. Keluhan sudah pasti adalah sebuah respon negatif dari seseorang. Meski begitu, Anda harus tetap menanggapinya dengan kepala dingin. Perhatikanlah apa yang menjadi keluhan pelanggan dan berusahalah sebaik mungkin untuk menanggapinya. Setelah keluhan disampaikan, perlu penanganan yang cepat terkait apa yang dikeluhkan. Pelayanan yang lamban akan membuat pelanggan merasa tidak puas.

Menjaga sikap kepada para pelanggan. Sebagai pengelola bisnis yang baik, sudah seharusnya Anda mengetahui atau menjaga bagaimana kinerja bawahan ketika melayani konsumen dan pelanggan. Caranya yaitu dengan menanyakan langsung hal tersebut kepada pelanggan. Apakah orang yang Anda pekerjakan sudah cukup ramah, baik, atau sopan dan seterusnya.

Pecahkan masalah kecil pelanggan. Ketika menghadapi pelanggan dan pembeli kita harus berkepala dingin, bijaksana dan tentu saja sabar, terutama ketika berhadapan dengan pelanggan yang rewel. Berdasarkan penelitian, pelanggan terdiri dari 20% orang yang tidak mudah memaafkan dan 80% orang yang mudah memaafkan. Okeh karenaya, Anda perlu menggunakan pendekatan yang paling tepat untuk menghadapi kemarahan pelanggan sejak awal sebelum masalah menjadi lebih besar.

Ketidakpuasan pelanggan adalah guru terbaik. Tidak semua pelanggan akan mengeluhkan langsung ketidakpuasan terhadap produk Anda. Oleh karena itu, Anda perlu untuk mencari tahu letak ketidakpuasannya. Salah satunya bisa dengan cara melakukan riset kepada pelanggan. Hasil riset tersebut bisa menjadi wacana untuk berdiskusi dan merancang upaya baru untuk meningkatkan kepuasan pelanggan. Selain itu, setelah mengetahui hasil langkah penting yang harus dilakukan adalah dengan membenahi persoalan pelanggan satu persatu.

Mengetahui kapan waktunya mengatakan tidak pada pelanggan. Tidak semua pelanggan adalah orang jujur, adakalanya Anda menemui pelanggan yang tamak atau rakus. Salah apabila Anda memenuhi ketamakan mereka. Di sini kebijakan Anda sangat berperan penting. Oleh karena itu, bila menemukan perbedaan antara kebutuhan dan ketamakan pelanggan, maka Anda harus mengambil keputusan yang terbaik. Hindarilah penundaan keputusan atau tidak memberikan keputusan sama sekali.

Komunikasi baik dengan pelanggan. Komunikasi pelanggan merupakan sebuah langkah yang penting dalam berbisnis. Baik itu secara langsung maupun tidak langsung. Dengan demikian, akan tercipta hubungan yang baik antara pedagang dan konsumen. salah satunya bisa juga dilakukan dengan bertatap langsung kepada pelanggan. Bahkan, bagi seorang sales, mendatangi pelanggan adalah suatu kewajiban

demikian tips Loyalitas Pelayanan untuk Memenuhi KEPUASAN PELANGGAN DAN KONSUMEN, semoga bermanfaat..












Contoh Peluang Bisnis Usaha Makanan Ringan Modal Kecil - KERIPIK TEMPE BU NOER

 Contoh Peluang Bisnis kali ini menyajikan Usaha Makanan Ringan Modal Kecil, KERIPIK TEMPE BU NOER.  Siapa bilang tempe hanya makanan rakyat kecil? Di tangan keluarga Muhammad Noer, tempe menjadi buah tangan khas Kota Malang bernilai jual tinggi. Kripik Tempe Aneka Rasa menyodorkan rasa daun jeruk, keju, barbeku, atau piza. 

Produk keripik tempe aneka rasa buatan keluarga Noer sudah menyebar seantero negeri, bahkan sudah merambah mancanegara, seperti Belanda, Singapura, hingga Amerika Serikat.

Saat ini dalam sehari, toko oleh-oleh Kripik Tempe Aneka Rasa Bu Noer yang terletak di Jalan Ciliwung Gang II Nomor 2, Kota Malang, menghabiskan 1 kuintal kedelai untuk membuat tempe. Tempe dibuat sendiri untuk menjamin kualitas rasa. Dari tempe tersebut baru diolah menjadi keripik tempe aneka rasa. Omzet normal dalam sehari mencapai Rp 10 juta. Nilai tersebut akan membengkak hingga tiga kali lipat saat Lebaran.

Usaha keluarga Muhammad Noer dimulai tahun 1993. Saat itu Bu Noer (Siti Djuariyah) dan Anik Suryani (adik Bu Noer) sepakat membuat dan menjual keripik tempe yang memang merupakan makanan khas Kota Malang. Saat itu Siti Djuariyah adalah ibu rumah tangga, sedangkan Anik adalah sarjana sejarah Universitas Negeri Malang yang belum bekerja.

Awal usaha hanya dikerjakan oleh tiga orang, yaitu Muhammad Noer, Siti, dan Anik. Anik meracik bumbu, Siti mengiris tempe, dan Muhammad Noer mengantar keripik ke warung yang dititipi -saat ia berangkat kerja sebagai PNS di lembaga pemasyarakatan di Kota Malang.

Awalnya keluarga Noer bermodalkan Rp 10.000 per hari untuk membeli satu bongkah tempe berukuran 50 cm x 25 cm untuk dijadikan keripik. Saat itu, satu bungkus keripik tempe berisi lima iris keripik dijual dengan harga Rp 500. Saat ini, keripik tempe Bu Noer dikemas per 150 gram dengan harga Rp 5.500 untuk rasa asli dan Rp 6.900 untuk aneka rasa.

Inovasi
Meski perlahan, karena banyak saingan, usaha rumahan tersebut terus berjalan. Tidak puas hanya sekadar ”berjalan pelan”, keluarga Noer mencoba berinovasi. Pada tahun 2000, mereka membuat keripik tempe aneka rasa, yaitu rasa keju, barbeku, piza, ayam bawang, spageti, dan udang. Tempe pun mulai diproduksi sendiri.

”Awalnya saya ditantang oleh keluarga untuk membuat keripik tempe yang beda dengan lainnya. Saya yang dasarnya senang memasak merasa tertantang dan ingin membuktikan bahwa saya bisa. Lalu saya buat keripik tempe aneka rasa,” tutur Anik.

Anik adalah orang di balik resep dan produk Kripik Tempe Aneka Rasa Bu Noer. Keripik tempe rasa keju, barbeku, piza, ayam bawang, spageti, udang, dan berbagai rasa pun akhirnya lahir dari tangan Anik. Keripik tempe aneka rasa tersebut disukai pasar.

Keinginan membuat produk berbeda, diakui Anik, dipicu oleh lokasi usaha mereka yang masuk ke dalam gang -sejauh 500 meter dari jalan raya- sehingga butuh produk menonjol yang memang dibutuhkan dan dicari pembeli di mana pun lokasinya. Mereka harus bersaing dengan pusat jajanan keripik tempe Sanan Kota Malang yang memang sudah terkenal sebelumnya.

Merasa inovasi awal berhasil, pada tahun 2002 Anik kembali berinovasi membuat keripik tempe rasa aneka daun, yaitu rasa daun ketumbar, daun kucai, daun prei, daun seledri, dan kemangi. Keripik tempe aneka rasa daun pun laris manis.

Tidak berhenti hanya membuat keripik tempe, keluarga Noer pun terus berinovasi membuat aneka olahan tempe dan bahan lokal lain. Tahun 2002, keluarga Noer juga memproduksi brownies tempe. Setahun kemudian, mereka membuat cake dan roti bekatul. Semua produknya disukai pembeli.

”Saya termotivasi membuat aneka olahan dari tempe dan bahan lokal seperti bekatul karena tidak ingin tempe hanya dianggap makanan kelas bawah. Tempe dan bekatul adalah produk lokal dengan gizi tinggi yang juga bisa menjadi makanan menengah ke atas,” ungkap Anik.

Ditiru
Melihat keripik tempe aneka rasa Bu Noer sukses, usaha keripik tempe lain di Malang pun mulai mengikuti membuat produk aneka rasa. Produk keripik tempe aneka rasa mulai ditiru pengusaha lain pada tahun 2005.

”Tidak masalah ditiru orang lain karena saya tidak jual nama. Saya menjual rasa sehingga saya berani bersaing dengan lainnya. Yang penting saya terus berinovasi memenuhi keinginan pembeli. Dengan ditiru, artinya produk saya disukai pasar,” ujar Anik.

Usaha keluarga Noer terus berkembang. Selain Bu Noer dan Anik, adik bungsu tiga bersaudara ini, yaitu Lilik Ismiyati, juga mulai membuat keripik aneka buah. Keripik dibuat dan dikemas sendiri oleh Kripik Tempe Aneka Rasa Bu Noer.

Kini, toko Kripik Tempe Aneka Rasa Bu Noer benar-benar sudah menjadi pusat oleh-oleh khas Kota Malang. Dari awalnya hanya dikerjakan oleh tiga orang, Kripik Tempe Aneka Rasa Bu Noer kini mempekerjakan 30 karyawan. Karyawannya berasal dari sejumlah daerah, yang ditampung di tiga rumah produksi keripik Bu Noer. Setiap karyawan digaji sesuai Upah Minimal Kota Malang dan diberi tempat tinggal tanpa harus kos.

”Setiap karyawan harus diperhatikan dengan baik. Jika tidak dijamin dengan baik, mereka bisa-bisa lari. Kami akhirnya akan kembali mencari orang dan itu cukup mengganggu proses produksi sebab harus mengajari dari awal,” ujar Anik.

Saat Lebaran, keluarga Noer menambah tiga kali lipat karyawannya. Ini karena kebutuhan produksi saat lebaran juga tiga kali lipat kebutuhan harian.

Dari usaha rumahan kecil, Kripik Tempe Aneka Rasa Bu Noer kini menjadi industri kecil, tempat bergantung banyak orang. Kunci keberhasilannya, menurut Anik, adalah berinovasi dan bekerja keras. ”Saya masih terus ingin berinovasi sesuai harapan pelanggan. Inovasi dibutuhkan agar usaha ini tidak berhenti,” ujarnya.

Dianggap sukses membangun usaha, keluarga Noer dipercaya pemerintah daerah untuk memberikan pelatihan di sejumlah daerah di Jawa Timur, mulai dari pelatihan kewirausahaan hingga mencari dan mengembangkan potensi daerah.














Minggu, 14 Juli 2013

AYAM BAKAR MAS MONO - Kisah Miliarder Wirausaha Makanan Bermodal Kecil (500 ribu)

Bekalnya ijazah SMA. Mengawali perjuangannya dengan menjadi office boy dan jualan roti pisang keliling. Namun hanya berselang delapan tahun Agus Pramono mampu menjadi juragan ayam bakar yang omsetnya ratusan juta perbulan.

Urip kaya cakra manggilingan, itu ungkpan para dihalang ketika mengupas filosofi hidup manusia. Artinya hidup ini ibrat roda yang berputar terkadang diatas terkadang dibawah. Filosofi hidup itulah yang dimaknai secara mendalam oleh Agus Pramono, Bos Ayam bakar Kalasan ( Mas Mono ) yang kini mempunyai tujuh outlet dan tersebar di berbagai wilayah di jakarta dan melayani jasa catering untuk beberapa stasiun TV swasta di Jakarta.

Sempat di tempa kerasnya hidup di ibukota selama lebih dari satu dasawarsa, akhirnya Mas Mono, dimekian akrab disapa oleh para pelanggannya, bisa menjadi juragan ayam bakar. Dalam sehari tak kurang dari 600 ekor ayam ia sajikan untuk para pelanggannya, yang terentang dari golongan bawah sampai atas.

Mono hijrah dari madiun ke jakarta pada tahun 1994, setamat dari sekolah menengah atas di kota brem tersebut. Di jakarta Ia bekerja sebagai karyawan restoran cepat saji sebagai cooker.

Tiga tahun kemudian atau 1997 ia keluar dari restoran, untuk memegang operasional rumah makan yang melayani jasa catering even-even khusus. kebetulan pada tahun itu, properti mengalami booming sehingga banyak sekali peluncuran perumahan-perumahan yang membutuhkan jasa catering. NAmun perjalanan hidup, tak ubahnya air yang pasang surut. akhir tahun 1997 atau awal 1998, krisis ekonomi mendera kawasan ASIA, termasuk Indonesia.Penyelenggaraan event-event yang semula booming, mulai lesu. Order yang mula antre, berubah total, nyaris tak ada satupun order yang masuk.

Mono masuk barisan dari jutaan penduduk Indonesia yang tidak memiliki pekerjaan tetap. Untuk menyambung hidupnya, Mono menulis puisi dan membuat vinyet untuk dikirimkan kesejumlah Media masa. ” Supaya bisa dimuat, puisi maupun vinyet itu saya antar sendiri ke redaksi,” kata mono mengenang masa-masa susah dalam hidupnya.

Mono berusaha untuk melamar ke sejumlah perusahaan. Namun tidak ada satupun lamarannya yang membuahkan hasil. baru pada tahun 1998, dengan rekomendasi dari seorang temannya, mono diterima sebagai office boy di sebuah perusahaan konsultan. pekerjaan mono sehari-hari adalah menyapu, mengepel dan memfotocopi dokumen, namun, disela-sela mengerjakan tugas pokoknya tersebut, mono belajar untuk mengoperasikan komputer. setelah berhasil mengoperasikan komputer ia mencari hasil tambahan dengan melayani jasa pengetikan skripsi.

Meski sudah berusaha keras untuk mendapatkan hasil tambahan, tetapi tuntutan ekonomi berkembang jauh lebih pesat, sehingga mono merasa posisinya sebagi karyawan tidak bisa dipertahankan lagi. Ia berfikir untuk keluar dan memulai usaha sendiri.

Modal cekak membuatnya berfikir keras, usaha apa yang cepat mendatangkan uang sehingga bisa menambal kebutuhan sehari-hari. Terlintas dibenaknya untuk membuat warung makan seperti yang berada di dekat kantornya. Namun dengan uang Rp. 500rb di tangan jelas tidak cukup dijadikan modal untuk mendirikan warung makan.

Dengan dana yang ada usaha jualan pisang cokelat merupakan pilihan yang masuk akal. Ia membelanjakan sebagian dari uangnya untuk uang muka membeli gerobak dan sisanya untuk membeli bahan baku. mulailah mono mendorong gerobaknya dan menjajahkan pisang cokelatdari satu sekolah dasar ke sekolah dasar lainnya. “Setiap SD jam istirahatnya berbeda. Saya selalu berpindah-pindah menyesuaikan jam istirahat beberapa SD,” ujar Mono.

Di tengah kesulitan hidup, mono mengambil keputusan berani untuk menyunting pujaan hatinya, Nunung, yang kini telah memberinya buah hati Novita Anung Pramono. Pasangan muda ini hidup di satu kamar kontraakan dan tidur hanya beralaskan tikar tanpa kasur. agar sedikit empuk maka mono menganjal tikarnya dengan kardus-kardus bekas.

Profesi sebagai penjual pisang coklat masih ia geluti. kalau dagangannya masih sisa, maka pa sorenya ia ngetem di depan universitas Sahi. Untuk meringankan beban suaminya Nunung mengambil pekerjaan dari subkontraktor kardus sepatu. ” Saya kasihan sekali melihat istri kecapeaan setelah melipat-lipat kardus sepatu,” ungkap Mono.

Pada suatu hari di tahun 2000, Mono melihat ada lapak di depan Usahid yang tidak terpakai. Mimpinya untuk memiliki warung ayam bakar kaki lima kembali menyeruak. didukung istrinya yang jago memasak mono mulai beralih profesi menjadi penjual ayam bakar. Pertama kali jualan mono membawa 5 ekor ayam yang ia jadikan 20 potong. pada waktu itu yang laku hanya 12 potong, tetapi saya sudah sangat bersyukur. memiliki lapak saja saya merasa bermimpi, imbuhnya.

Kombinasi antara menu yang enak dan ketekunan, sedikit demi sedikit ayam bakar mas mono membuahkan hasil. hari demi hari, minggu berganti minggu, tahun beranjak tahun ayam bakarnya semakin laris. warungnya yang semula hanya menghabiskan lima ekor ayam sudah mampu menjual 80 ekor ayam per harinya. karyawan yang semula hanya satu orang bertambah menjadi beberapa orang.

“Meskipun warung saya hanya kaki lima, namun saya menerapkan standar operasional rumah makan besar. Karyawan memakai seragam, tidak memelihara kuku panjang, tidak berkumis dan tidak berjenggot,” terang mono.

Lantaran adanya standar tersebut, Warung mono menjadi terlihat berbeda dibanding warung kaki lima lain sehingga warung tersebut mengalami pertumbuhan pesat. Meski kondisi ekonomi semakin membaik, sang istri tidak tinggal diam. Sang istri berjualan nasi uduk di dekat sebuah kantor di jalan MT Haryono. warung nasi uduk yang buka antara pukul 06.00 – 10.00 pada saat itu sudah meraup omset 800 ribu perhari.

Agaknya jalan terang terus terhampar. setelah satu pelanggannya, presenter dunia lain Trans TV, menyarankan agar mono menawarkan jasa catering ke stasiun televisi tersebut. ternyata tanpa melalui peroses berliku-liku mono mendapat proyek itu, tak lama kemudian Anteve dan TV 7, memesan catering dari peria yang hobi memodifikasi sepeda motor ini.

Pada sisi lain, mono juga melakukan ekspansi warungya. Dari salah satu pelanggannya ia mendapatkan penawaran tempat di jalan Tebet raya No.57, meski hanya kecil. Di tempat ini mono hanya bisa menempatkan 2 bangku kecil, tetapi di luar dugaan pelayannya membludak sehingga mereka rela makan sambil berdiri. setelah sukses di tempat ini mono mengusung nama ayam bakar kalasan mas mono untuk jualannya. sebelumnya, ia tidak memakai merek untuk warungnya.

Untuk menampung pelanggannya mono kembali membka warung di jalan Tebet Timur Dalam. lagi-lagi warung ini juga dipenuhi oleh pelanggan. Bukan hanya pelanggan lama, tetapi juga pelanggan baru, tetapi juga pelanggan baru sehingga warung ini yang semula diniatkan menampung pelanggan lama, malah bisa memperluas pasar lagi. Kini keseluruhan warung Mas Mono mencapai tujuh. selain yang disebut di atas Mono juga memiliki warung di jalan Panggadegan Selatan Raya, Jalan pulo Nangka Barat II, jalan Inspeksi Saluran E 26 Kalimalang dan kampus ASMI pulo mas.

NAmun Mono sendiri mengaku sampai saat ini belum memiliki rumah dan mobil pribadi. Tiga mobil yang ia miliki adalah mobil operasional. sedang rumahnya masih kontrak. Namun sejatinya, dari omset satu bulan saja mono mampu membeli rumah ataupun mobil pribadi sekaligus.”Duitnya mengembangkan usaha Mas,” katanya seraya mengatakan dalam pengembangan usaha ia tidak pernah berhubungan dengan lembaga keuangan.

Sukses di mata mono tidak harus memiliki rumah mentereng atau mobil keren, melainkan apa yang menjadi kebutuhannya terpenuhi. “Mungkin orang lain memiliki pengertian lain tentang sukses adalah ketika seseorang bisa memenuhi apa yang menjadi kebutuhannya,” ujarnya kalem.

Kunci sukses, kata Mono, adalah penerapan dari kata-kata mutiara yang sering diucapkan oleh banyak orang “Dimana ada kemauan di situ ada jalan. mungkin kata-kata itu sangat sederhana dan mungkin setiap orang sudah tahu tentang itu. tetapi kalau benar-benar di terapkan bisa menuntun hidup seseorang kearah yang lebih baik. saya merasakan sendiri kebenaran kata-kata itu,” Tegas Mas Mono















Sabtu, 13 Juli 2013

Menjadi Wanita Karir dan Ibu Rumah Tangga? ini Panduannya ya

Ada beberapa solusi yang bisa dilakukan oleh ibu pekerja untuk memastikan kondisi anak-anak di rumah baik-baik saja sementara dia tetap bekerja di kantor. Beberapa ada yang memilih menggunakan  pengasuh anak, pembantu yang bertugas mengawasi kegiatan anak-anak di rumah dan di sekolah. Bahkan ada juga yang menitipkan anak kepada orang tua dan sebagainya.

Dalam hal ini, kepandaian berbagi peran dan mengatur waktu bagi wanita karier mutlak diperlukan. Susan Crites Price memberikan sejumlah tips ringan  bagaimana wanita bisa seimbang bertugas sebagai istri, ibu dan wanita karir. Penulis The Working Parents Help Book: Practical Advice for Dealing with the Day to Day Challenges of Kids And Careers, bersama suaminya, Tom Price, memaparkan sebagai berikut : 

1.Biasakan untuk selalu mencatat daftar pekerjaan dan rutinitas sehari-hari. Kata Susan, dengan mengacu pada catatan tersebut sebagai pengingat apabila terjadi hal-hal yang berada di luar catatan.

2.Jujurlah pada catatan tersebut. Apabila ada waktu yang dilewatkan yang tercatat tanpa alasan yang jelas, dimasukan juga. Kemudian, hitung ulang waktu yang “terbuang” dan ubah kebiasaan itu untuk lebih memberikan banyak waktu pada anak.


3.Selalu meluangkan waktu untuk berkomunikasi atau ngobrol dengan cara apapun. Mulai pesan pendek melalui telepon seluler atau blackberry, bisa juga melalui telepon, surat elektronik atau
telepon dengan Three G dan skype misalnya.

4.Tentukan prioritas. Sebagai wanita karier, Anda seharusnya bisa dengan bijak memisahkan, mana pekerjaan paling penting untuk segera diselesaikan. Jangan buang waktu. Segera selesaikan, dan bila ada waktu sisa, maksimalkan untuk keluarga.

5.Cobalah mendelegasikan tugas. Sebagai wanita karier, jangan sungkan minta rekan kerja atau bawahan untuk mengerjakan tugas yang biasa Anda lakukan. Dengan begitu, Anda bisa berhemat waktu melalui kerja bersama yang lebih padu.

6.Sebaiknya tidak memberikan jadwal terlalu padat kepada anak. Meski saat ini sudah banyak tempat penitipan anak yang berkualitas, jangan paksakan anak mengikuti jadwal ini dan itu jika ia tak suka. Susan mengingatkan supaya Anda, suami dan anak-anak harus kompak memadu  padankan jadwal supaya waktu kebersamaan bisa lebih maksimal.

7.Membuat pendjawalan waktu bersenang-senang. Susan meyakini berlibur di akhir pekan atau semasa anak liburan sekolah harus benar-benar bisa diatur bersama suami. Sebaiknya selalu menyempatkan waktu tersebut secara maksimal supaya terjalin ikatan kuat antara Anda, suami, dan anak.

8.Belajar berkata tidak. Ajakan teman-teman di kantor biasanya sering sangat menggoda, ke mal, ke klub malam, atau ke restoran kesenangan. Cobalah berkata tidak, dan pilihlah waktu lebih untuk keluarga.

9.Selalu menjaga kondisi tubuh dan bersikap rileks. Menurut Susan, sebagai wanita karier dan ibu di rumah tangga, pastilah banyak pekerjaan yang akan menyita waktu. Untuk itu, kesehatan merupakan hal mutlak yang perlu dijaga. Makan makanan bergizi dan olahraga sejenak 
akan jadi solusi. Selain itu, bermeditasi atau santai sendirian sejenak, juga bisa melepas stres untuk meredam emosi.

10.Susan mengingatkan sebaiknya jangan melupakan hal kecil tapi bermakna besar. Yaitu, ciuman hangat saat tidur untuk si kecil, bahkan meski ia sudah/masih tertidur pulas ketika Anda pulang larut atau pergi pagi hari akan memberikan ikatan batin yang akan menjaga hubungan Anda dengan si kecil.














Senin, 01 Juli 2013

Perjalanan Sukses Wirausaha Bisnis Kuliner, seorang Istri yang Hobi Masak Makanan - Abon Lele SEKAR MUTIARA -

 Perjalanan Sukses Wirausaha Bisnis Kuliner, seorang Istri yang Hobi Masak Makanan - Abon Lele SEKAR MUTIARA -
Usaha camilan dari ikan lele yang dirintis Nurul Hidayati berawal dari kepiawaiannya memasak. Lucunya, wanita yang akrab disapa Nurul ini mengaku baru bisa memasak setelah menikah. Menurutnya, memasak adalah tuntutan profesi ibu rumah tangga. “Karena sudah menjadi rutinitas, saya jadi gemar mencoba berbagai resep, mulai dari masakan nusantara sampai aneka kue,” ujar Nurul.

Awalnya, wanita yang juga berprofesi sebagai guru honorer di Sekolah Dasar SDN Randu Pandangan, Kecamatan Menganti, Gresik , Jawa Timur ini sempat berjualan kue kering. Usaha kue kering ini cukup diminati teman dan kerabat Nurul di Gresik. Penjualan semakin meningkat setiap menjelang hari raya, seperti Lebaran, Natal, dan Tahun Baru.

Seiring waktu Nurul berpikir untuk mempunyai usaha yang serius dan lebih besar lagi. Tahun 2004 silam, ia beralih menjual produk makanan olahan berupa abon ikan patin. Nurul sengaja memilih makanan pendamping nasi karena diyakini diminati orang setiap saat, bukan di musim tertentu saja. Abon ikan patin yang dijualnya bukan dibeli dari pihak lain, melainkan hasil kreasinya sendiri. Awalnya dia iseng meminta teman-teman untuk mencicipi abon ikan patin tersebut. Tak disangka, mereka ketagihan dan langsung memesan.

Melihat tingginya minat, Nurul pun kemudian membisniskan abon buatnnya. Produk itu dijual secara sederhana, hanya dengan kemasan plastik biasa dan hanya mengandalkan promosi dari mulut ke mulut. Namun, mengingat persediaan ikan patin terbatas dan harganya cukup mahal, Nurul sempat kesulitan dalam urusan modal dan harga jual. Ia akhirnya mencari caralainagar tetap bisa menciptakan abon ikan yang harganya terjangkau namun rasanya tak kalah enak dengan abon dari ikan patin.

“Saya sempat mengalami harga ikan patin melonjak tinggi. Saya harus memutar otak untuk mencari gantinya. Lalu atas saran Sofyan,sepupu sekaligus patner usaha saat ini,saya mencoba membuat dari ikan lele yang persediaannya lebih berlimpah,” ujar wanita kelahiran Gresik, 26 September 1976 ini.


TERUS MENINGKAT

Tahun 2010, sambil tetap bekerja sebagai guru, Nurul menekuni usaha abon ikan lele yang diberi label Sekar Mutiara. Di awal, ia menggelontorkan modal sebanyak Rp5 juta yang dipakai untuk membelimembeli peralatan.Pemasarannya pun ditingkatkan dengan menggunakan sistem online dan lewat pameran.

Ternyata abon ikan lele pun menuai respons positif Pendapatan dari penjualan abon lele yang awalnya hanya Rp600ribu perbulan terus meningkat. Nurul lantas berniat serius untuk memproduksi lebih banyak lagi produk olahan lele.

Untuk meningkatkan pendapatan, Nurul tak berhenti melakukan inovasi. Setelah meluncurkan rasa orisinal, ia membuat abon lele dengan aneka varian, seperti rasa pedas dan bawang. Lalu ia juga memproduksi kerupuk ikan lele (rasa pedas dan orisinal), kerupuk rambak lele, keripik sirip lele crispy, dan keripik baby lele crispy. Ternyata variasi olahan lele kreasinya laris manis di pasaran. “Diversifikasiproduk sangat diperlukan karena selera konsumen berbeda-beda. Misalnya, abon lele orisinal sangat diminati konsumen di kota Surabaya, tapi di daerah Bali justru abon lele pedas yang banyak diminta k,” ujar ibu dari Asysyabiyah Shahih Naura Fumi (1,5 bulan)ini.

Inovasi yang tetap mengandalkan bahan baku lele merupakan bagian dari strategi Nurul dalam meningkatkan penjualan. Selain itu, ia juga ingin memanfaatkan ikan lele seutuhnya agar tidak terbuang sia-sia. Misalnya, kulit ikan lele dimanfaatkan untuk membuat rambak lele, sementara sirip ikan lele dapat menghasilkan produk Baby Lele Crispy. Saat ini Nurul tengah mempelajari bagaimana memanfaatkan tulang ikan lele agar tidak terbuang begitu saja.

Hadapi Persaingan Dengan Produk Bermutu

Selain jenis-jenisnya, Nurul juga melakukan inovasi dalam kemasan. Dari yang sederhana dibuat menjadi lebih modern dengan plastik aluminium kedap udara dan antibakteri. Dengan begitu makanan di dalam kemasan akan bertahan lebih lama tanpa mengurangi cita rasanya. Kemasan modern juga membuat Nurul lebih percaya diri dalam bersaing karena yakin produk olahan lelenya tidak kalah apik dibanding produk-produk lain di pasar swalayan.

Segala inovasi dan terobosan yang dilakukan Nurul ternyata merupakan hasil dari ketekunannya mengikuti berbagai pelatihan dan seminar UKM (Usaha Kecil Menengah). Salah satunya adalah pelatihan yang diadakan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Timur. “ Selain pelatihan dan seminar, saya juga rajin mengikuti pameran. Dari pameran inilah saya dapat membaca selera konsumen dan berinteraksi langsung dengan mereka,” ujar sarjana Sastra Jepang Universitas 17 Agustus Surabaya ini.

Selainmendongkrak penjualan, ajang pameran juga membuat produk olahan lelemakin dikenal masyarakat. Dari pameran juga Nurul mendapat konsumen yang tertarik memasarkan produknya ke berbagai daerah di tanah air, bahkan luar negeri. “Respons itu memang tidak langsung datang saat pameran berlangsung, tapi di hari-hari setelahnya. Biasanya ada saja pembeli dari berbagai daerah yang meneleponnya untuk memesan produk Sekar Mutiara,” tukas Nurul.

Untuk menjaga kepercayaan konsumen, Nurul selalu menjaga kualitas produk. Ia sadar dirinya bukan pemain tunggal di bisnis tersebut. Meski banyak kompetitor, Nurul tak gentar. Ia menganggap kompetitor sebagai tantangan dalam mempertahankan usaha yang dijalankan. Karena itu, istri Roni Ristiyanto ini selalu menomorsatukan kualitas, selain terus memaksimalkan sistem pemasaran. Menurutnya, saat ini konsumen sudah pintar menilai. Jika produk yang dijual tidak mempunyai mutu baik, otomatis bisnis yang dijalankan akan mati.

Dua Kuintal Lele Setiap Minggu

Berbicara tentang kualitas, Nurul menuturkan keistimewaan produk olahan lelenya terletak pada rasanya yang khas dan proses pengolahannya yang sehat. Proses pengeringan menggunakan oven, bukan digoreng dengan minyak. Semua proses produksi dilakukan secara higienis. Ia juga tidak menambahkan MSG, serta bahan kimia pada produk Sekar Mutiara ini. “Produk yang saya buat sama sekali tidak berminyak, karena dimatangkandengan oven. Sehat dan aman dikonsumsi bagi siapa saja,” ujarnya berpromosi.

Setiap minggunya , dua kuintal ikan lele dibutuhkanuntuk memenuhi kebutuhan produksi camilan lele ini. Untuk abon lele sendiri, proses produksinya masih dilakukan secara sederhana.Daging lele dipisahkan terlebih dahulu dari kulit dan siripnya. Kemudian daging lele tersebut dikukus dan diracik dengan aneka bumbu, lalu dikeringkan dengan cara dioven hingga menjadi abon.

Ikan lele yang digunakan Nurul tidak memiliki kriteria khusus. Ia menggunakan leleyang besarnya minimal satu kilogram perekor. Ikan lele sebagai bahan utama usahacamilanini didapat dari peternak di daerah Gresik. Selain mudah didapat, pembelian lele pada peternak lele ini juga sekaligus menyelamatkan kegelisahan para peternak lele terhadap hasil tambaknya.

Lele berukuran satu kilogram yang berbadan besar dan panjang seperti yang dimanfaatkan Nurul tidak pernah laku di kalangan pengusaha pecel lele. Para pedagang pecel lele biasanya hanya membeli lele berukuran kecil. “Sementara banyak lele yang berukuran besar dengan panjang 75 cm. Makanya saya manfaatkan saja ukuran ikan lele yang memang tidak laku dipasaranitu,” tutur Nurul.

Selain soal produksi dan teknis, ada tantangan lain yang harus dihadapi Nurul. Ia mengalami dilema antara kesibukannya mengurus usaha dengan kegiatan mengajar. Di satu sisi, Nurul sangat mencintai profesinya sebagai pendidik, tapi di sisi lain, ia mengaku berat membagi konsentrasi antara dua pekerjaan. Apalagi sang ibunda sempat tidak mendukung langkah Nurul saat menjalankan usaha itu.

Ibunda Nurul yang juga berprofesi sebagai seorang kepala sekolah sangat menginginkan Nurul menjalani profesi yang sama. “Ibu menyayangkan jika saya keluar dari pekerjaan sebagai guru, dan memilih usaha lain. Ibu benar-benar menginginkan saya meneruskan perjuangannya untuk mendidik anak-anak di sekolah,” ujar Nurul. Tak mau langsung menyerah, ia mencoba berbagai cara agar tetap bisa menjalani dua profesi itu.

Salah satu langkah yang ditempuh Nurul adalah berbagi tugas dengan adiknya, Arief Wahyu Prasetyo. Kegiatan pemasaran ditangani oleh sepupunya , Sofyan. “Sepulang mengajar, saya mengontrol, sambil membantu produksi dan marketing juga. Pokoknya semaksimal mungkin saya menbagi waktu agar semua bisa berjalan. Saya berusaha untuk tidakmengecewakan Ibu dan tetap akan meneruskan perjuangannya sebagai seorang guru,” tegas Nurul.

Sampai saat ini usaha Nurul menyeimbangkan antara dua profesi berjalan lancar. Terbukti, sambil tetap mengajar ia bisa menghasilkan omzet yang mencapai Rp25 – 35 juta per bulan. “Yang paling penting, jangan cepat menyerah. Jika ada keinginan atau kemauan tertentu, segera wujudkan,” pesan Nurul.

Kunci Sukes Nurul Hidayati:
Jujur.
Senang berbagi.
Yakin dalam berdoa.











ref

Minggu, 30 Juni 2013

Cerita Sukses Peluang Usaha Rumahan, Bisnis Makanan Modal Kecil Omset Besar - SAMBAL ROA JUDES

Cerita Sukses Peluang Bisnis Rumahan kali ini menceritakan kisah perjalanan sukses wanita wirausaha sambal bermodal kecil yang akhirnya beromset ratusan juta.
Gara-gara diberi oleh temannya yang tinggal di Manado, Rimayanti Wardani Adiwijoyo atau akrab disapa Rima,mengaku kecanduan menyantap sambal yang dibuat dari campuran ikan roa. Pertama kali mengenal sambal ikan roa, Rima masih mengenyam pendidikan di InterStudi, Jakarta, yaitu tahun 1999. Setiap teman satu kosnya datang dari Manado, Rima selalu minta dibawakan oleh-oleh sambal ikan roa.  “Karena suka, saya pun minta diajarkan membuat sambal ikan roa oleh kerabat teman saya yang tinggal di Manado. Melalui arahan di telepon, saya coba-coba belajar membuatnya. Namun, resep sambal saya ubah sedikit agar rasanya sesuai dengan lidah saya,” cerita Rima .

Kegemaran Rima menyantap sambal ikan roa membuatnya jadi sering memasak sambal khas asal Sulawesi  ini. Lama-lama ia pun semakin piawai. Namun, kala itu Rima tidak berniat menjual sambal buatannya. Lalu, pertengahan tahun 2012 , wanita kelahiran Jakarta, 9 Maret 1980 ini dibawakan oleh-oleh ikan roa dari temannya yang datang dari Manado. Mengingat kegemaran Rima menyantap sambal ikan roa, sang teman membawakan ikan dalam jumlah banyak. Rima lantas memasak semua ikan roa  pemberian temannya tersebut. “Setelah saya jadikan sambal, hasilnya jadi sangat banyak. Iseng-iseng , sisa sambal roa yang berlebihan tadi saya masukkan ke dalam toples selai. Ternyata, dapat delapan  toples ,” ujar ibu dua anak ini.

Rima memotret toples-toples berisi  sambal buatannya, lalu memajang foto itu di profil BlackBerry mliknya. “Tidak lama memasang, teman-teman kantor langsung minta dibawakan. Dalam sekejap, sisa sambal bikinan saya laku terjual di kantor,” ungkap Rima semangat. Bahkan, teman-teman satu kantor yang tidak kebagian sambal roa buatannya pun lantas minta dibuatkan. Melihat banyaknya permintaan teman kantor, wanita yang pernah bekerja sebagai asisten manajer pemasaran di salah satu perusahaan provider telekomunikasi ini terpikir untuk membuka usaha. “Saya langsung hubungi teman yang kenal dengan pemasok ikan roa dari Manado. Syukurlah, ada sebuah koperasi di Manado yang bisa memasok ikan roa asap sebagai bahan utama sambal. Jika beli di Jakarta harganya sangat mahal,” ujar Rima.

Naik Turun Angkot

Dengan uang Rp500 ribu, Rima mulai memproduksi bisnis rumahan sambal ikan roa. Sepulang dari kantor, ia langsung masuk dapur untuk mengolah ikan roa asap. Sang suami, Ciptoning Adiwijoyo, juga ikut turun tangan. Jika Rima banyak berkutat di dapur, suami yang seorang analis bisnis berinisiatif membantu Rima berbelanja bahan baku di pasar, seperti cabai dan bawang. “Sepulang dari kantor suami saya mampir ke pasar Pondok Gede. Pulang-pulang ia sudah menenteng bawang dan cabai,” kenang Rima. Biasanya Rima mulai beraksi setelah menyusui anak. Dengan hanya bermodalkan ulekan tangan, ia berkutat di dapur. Kadang Rima baru selesai memproduksi sambal pukul 3 pagi, namun ia tak pernah mengeluh. “Istilahnya, ada cinta di setiap ulekan,” ujarnya sambil tersenyum.

Kemudian , Pengusaha wanita ini mulai memikirkan cara mengemas sambal roa buatannya agar lebih menarik. Ia membeli botol-botol plastik di pasar di daerah jalan Pramuka di Jakarta. Desain logo juga dibuat oleh Rima sendiri. Logo bergambar ikan roa yang memiliki sembilan sirip ini melambangkan tanggal kelahirannya. Sementara warna merah pada logo menandakan rasa sambal yang pedas. Kemudian tercetuslah nama Sambal Roa JuDes. JuDes artinya Juara Pedas. Ini untuk menggambarkan cita rasa sambal yang pedas dan gurih.

Sebagai langkah awal, Rima menjajakan sambal produksinya di kantor. Ia masih ingat betul betapa banyaknya tantangan yang harus dihadapi saat memulai usaha makanan ini. Setiap pagi, dengan membawa ransel dan tentengan berisi berbotol-botol sambal, ia berangkat menuju kantor. Bukan dengan mobil, tapi naik turun angkot dan busway. “Dalam hati saya berujar. Suatu saat nanti, apa yang saya alami ini bisa menjadi kebahagiaan di masa yang akan datang,” kenangnya. Di hari pertama, delapan botol yang dibawanya habis terjual. Keesokannya ia datang dengan 10 botol. Itu pun langsung ludes. Hari demi hari produksi mulai meningkat.  


Melesat Lewat Reseller

Ternyata, selain untuk dikonsumsi sendiri, banyak yang berminat untuk ikut menjual Sambal Roa JuDes sebagai peluang usaha yang menjanjikan. Banyaknya peminat untuk menjadi reseller membuat Rima semakin yakin kalau sambal buatannya memiliki prospek bisnis yang bagus. “Niat saya bukan hanya mengincar materi, tapi juga membantu teman-teman, khususnya perempuan, agar bisa memiliki pendapatan tambahan. Saya ingin menanamkan prinsip saling berbagi,” ujar wanita yang juga bekeja sebagai dosen paruh waktu bidang ilmu komunikasi pemasaran di salah satu universitas swasta ini. “Sedari dulu saya sudah hobi berjualan. Waktu SMP saya berjualan wirausaha aksesori, waktu kuliah dan bekerja sempat berjualan parfum. Saya tahu bagaimana senangnya jika kita bisa mempunyai penghasilan tambahan. Apalagi bagi para ibu rumah tangga,” celetuknya,

Karena jadi penjual sambal, Rima dipanggil juragan oleh teman-temannya di kantor. Akhirnya nama sebutan juragan ini dipakai Rima untuk menyebut dirinya sebagai produsen. Sementara istilah bandar, digunakan untuk menyebut nama resellernya. Karena permintaan semakin melonjak, ia pun mulai memikirkan sistem yang lebih baik. Juli 2012 Rima mulai menerapkann metode baru. Ia menggaet lima orang distributor yang terdiri dari teman-teman dekatnya. Para rekanan yang disebut Distributor Bintang Lima ini memegang area penjualan tertentu dan bertugas merekrut atau menerima kerjasama dengan para reseller.

Menurut Rima, “nyawa” dari Sambal Roa JuDes terletak pada sistem penjualan langsung. Dengan sistem pemasaran melalui reseller, ada silaturahmi yang terjalin antara pembeli dengan sang reseller.  “Dengan sistem reseller, otomatis barang tidak “parkir” di etalase. Sementara itu, kalau saya menitip di toko, tidak ada komunikasi yang terjalin antara penjual dan pembeli. Barang otomatis tidak berpindah tangan,” jelas Rima. Untuk distributor dan reseller, Rima menerapkan jumlah minimum pembelian. Tentu saja reseller dan distributor akan mendapatkan harga di bawah harga eceran. “Keuntungan yang didapat dari para distributor dan reseller ini bisa mencapai 20 – 30 persen,” imbuh Rima.

Promosi Lewat Komentar  Selebriti

Penjualan juga melonjak drastis saat Rima gencar melakukan promosi melalui media sosial, seperti Facebook dan Twitter. Apalagi saat ia menerapkan sistem endorse atau memberikan secara cuma-cuma Sambal Roa JuDes pada beberapa selebriti. Saat menerima produk sambal roa buatan Rima, selebriti tersebut lantas memajang foto dan memberi komentar di Twitter. Komentar para selebriti inilah yang dijadikan Rima sebagai bahan promosi. Pasangan Hanung Bramantyo dan Zaskia Mecca, penyanyi Nina Tamam, presenter Andhara Early serta koki dan pengamat kuliner Bara Pattiradjawane merupakan sebagian artis yang sudah memberikan komentar tentang nikmatnya menyantap Sambal Roa JuDes. “Saya cuma minta alamat mereka, lalu kirim sambalnya,” papar Rima berbagi tip.

Dalam bulan Februari 2013, penjualan sambal roa ini mencapai 3.000 botol. Sang suami lalu menyuruh Rima untuk fokus pada usahanya ini. “Suami bilang, saya tidak boleh serakah. Rezeki ini titipan Tuhan. Artinya, bisa diambil kapan saja. Saya disarankan untuk memilih satu, antara pekerjaan kantoran atau berjualan sambal,” cerita Rima. Menurut sang suami, dengan melakukan dua pekerjaan sekaligus, ia menjadi orang yang mudah korupsi. Misalnya, korupsi waktu. Memang, karena sibuk mengurusi sambal, kadang Rima terlambat sampai kantor. Selain itu, otomatis ia sering menggunakan fasilitas kantor untuk menunjang usaha, misalnya kertas atau printer. “Karena tidak mau jadi orang yang seperti itu terus, saya pun menuruti nasihat suami,” papar Rima.

Di bulan Februari 2013, Rima akhirnya memutuskan untuk berhenti bekerja. Satu hal yang menguatkan keputusannya untuk berhenti menjadi pegawai adalah karena ia sudah bisa membayar perjalanan  ibadah Haji untuk ibundanya yang kini menjadi orang tua tunggal. “Berkat hasil penjualan sambal, saya bisa mewujudkan cita-cita membayar perjalanan Haji untuk Ibu. Niat ini sudah terlintas sejak almarhum Ayah tiada tahun 2011. Saat bekerja kantoran keinginan ini tidak pernah tercapai karena uangnya tidak pernah ter-kumpul,” ujar Rima terharu.


Berhasil Wujudkan Resolusi

Sejak Rima berhenti bekerja, omzet sambal roa meningkat drastis. Di Januari omzet sambal baru mencapai Rp30 juta, sedangkan di April Rima sudah mengantongi omzet Rp170 juta. Dalam dua hari ia memproduksi 500 botol sambal. Selain di Indonesia, Sambal Roa JuDes seharga Rp37.500 per botol ini juga sudah memiliki reseller di berbagai negara, seperti Jerman, Kanada, Jepang  dan Jeddah. Salah satu pasar swalalan juga menjual Sambel Roa JuDes di outlet. Namun, menurut Rima, penjualan terbanyak  tetap diraih oleh para distributornya.

Salah satu kunci kesuksesan Pengusaha Rima adalah kualitas. Wanita itu mengaku sangat selektif memilih bahan baku sambal. Ikan roa asap yang dididatangkan langsung dari Manado harus benar-benar dalam keadaan kering agar sambal tidak berjamur saat telah dimasak. Sementara cabai harus dalam keadaan segar, serta memiliki batang yang juga masih segar. 

Berkat kegigihan Rima merintis usaha sambal, satu demi satu resolusi yang dirancangnya di akhir tahun mulai terwujud. Salah satunya adalah ia bisa menabung , berinvestasi tanah, serta  wakaf untuk almarhum ayahnya. “Tidak punya uang bagi saya sudah biasa.     Karena itu, rasanya luar biasa sekali       ketika saya bisa memiliki uang dan membaginya dengan orang lain,” ujar Rima menutup percakapan.

demikian Cerita Sukses Peluang Usaha Rumahan, Bisnis Makanan Modal Kecil Omset Besar - SAMBAL ROA JUDES

semoga menambah inspirasi